LAB- MTCRE - Konfigurasi Scope and Target Scope

September 09, 2019 Add Comment

Supaya dapat menjalankan failover dengan baik selain konfigurasi nilai distance, kita juga akan mengatur parameter Chek Gateway. Mekanisme pengecekan Gateway ini akan menggunakan ARP Request atau Test Ping yang akan dikirimkan setipa 10 detik. “Gateway Time-Out” apabila tidak merespon selama kurang lebih 10 detik dari mesin gateway. Dan dianggap “Unreachable” jika terjadi 3 kali gateway time-out secara berurutan.
Contoh diatas apabila link yang putus adalah link yang terhubung langsung dengan Router Gateway. Namun, bagaimana jika kasusnya adalah apabila yang putus adalah diatas Router Gateway yang tidak secara langsung (Recursive). Apabila kita melihat mekanisme pengecekan yang memakai metode ARP Request dan Test Ping akan mengecek jalur yang ke Router Gateway sehingga tidak bisa melakukan pengecekan pada jalur diatasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut kita bisa menggunakan parameter “Scope and Target Scopee” pada konfigurasi Routing. Secara Default Router akan memberikan nilai dari Scope dan traget Scope untuk masing-masing Type Routing yang nilainya juga berbeda.
Berikut adalah gambran-gambaran dari scope dan Target Scope pada masing-masing Tipe Routing


Berikut adalah konfigurasi Scope and Target Scope dalam bentuk Video.

LAB MTCRE- Konfigurasi Change TTL (Time To Life)

September 08, 2019 Add Comment

TTL (Time To Life) merupakan nilai paket data (header IP) yang menyatakan beberapa lama paket tersebut dapat beredar atau berjalan dalam sebuah jaringan, nilai TTL ini akan menentukan paket harus diteruskan ke Router selanjutnya (next hop router) atau di discard.
Nilai default pada TTL adalah 64 dengan maksimum 255 (8 bit) dan nilainya akan berkurang 1 setiap paket data melewati router (layer 3) beberapa saat sebelum forwarded decision, dan router tidak akan melewatkan traffic ke router selanjutnya apabila TTL yang diterima bernilai 1. Untuk cara konfigurasi Change TTL ini  kita akan merubah nilai TTL (Time To Life)dari paket yang menuju ke clinet. Kita dapat melakukan konfigurasi tersebut pada Firewall Mangle dengan menambahkan Change TTL dengan Chain Postrouting yang menuju ke Client.
Pada konfigurasi Change TTL ini kita akan menggunakan topologi seperti berikut.


Untuk konfigurasi yang pertama kita harus mengofigurasi IP Address pada masing-masing Router sesuai dengan Topology diatas.

Selanjutnya kita harus melakukan konfigurasi Routing pada masing-masing Router agar client dapat saling berkomunikasi.

Selanjutnya kita konfigurasi pada Firewall Mangle dengan mengisikan Chain = Postrouting (merubah nilai TTL setelah Routing Decision) dengan Out interface = ether2 (interface yang mengarah ke Client). 
pada Tab Action isikan Change TTL dengan New TTL (sesuai dengan kebutuhan) lalu hilangkan tanda centang pada Passtrough.




Setelah konfigurasi Firewall Mangle pada masing-masing Router selanjutnya kita lakukan uji ping pada setiap Client.

Untuk konfigurasi Change TTL ini saya juga memberikan tutorial dalam bentuk Video, silahkan simak baik-baik. Selamat menonton :)




LAB MTCRE- Konfigurasi Routing Type Mikrotik

September 06, 2019 Add Comment

Pada bab kali ini saya akan membahas tetang konfigurasi Routing Type, pada Routing selain menjelaskan tentang Routing Static juga akan menjelaskan tentang Routing Type. Routing Type ini bisa digunakan untuk kebutuhan keamanan jaringan. Untuk fungsi kemanan jaringan kita bisa memilih beberapa parameter berikut:
1.      Blackhole, digunakan untuk melakukan blocking secara diam-diam.
2.      Prohibit, digunakan untuk meakukan blocking dan mengirimkan pesan error ICMP “Administratively Prohibited atau Packet Filtered”.
3.      Unreachable, digunakan untuk melakukan blocking dan mengirimkan pesan error ICMP “Host Unrechable”.
4.      Unichast, digunakan untuk mengijinkan Paket pada Proses Routing yang sedang berlangsung.
Nah, apabila kita menggunakan ketiga parameter diatas, kita tidak memerlukan untuk mendefinisikan gateway. Misal kita ingin melakukan blocking IP Address tujuan tertentu, maka kita hanya mengonfigurasi Dst. Address dan menentukan Type apa yang akan dipakai. Untuk jelasnya kita langsung saja praktekkan untuk Routing Type.


Pada lab kali ini saya akan menjelaskan tentang Routing Type Blackhole, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya Routing Type Blackhole ini digunakan untuk memblokir packet Routing tanpa pemberitahuan masalah yang terjadi. Jadi pada Type ini Client tidak akan mengetahui jika packet yang diterimanya sudah diblokir.

Untuk Type Blackhole ini saya menggunakan Topology seperti gambar, dan berikut adalah konfigurasinya.
Konfigurasi IP Address pada masing-masing perangkat sesuai dengan topologi diatas, berikut penerapannya.

Setelah itu, konfigurasi Static Route pada masing-masing Router. Pada Router1 konfigurasi Route dengan Dst. Address 20.20.20.0/24 Gateway 10.10.10.2, dan pada Router2 konfigurasi Route dengan Dst. Address 192.168.100.0/24 Gateway 10.10.10.1 dan  secara default rule akan mempunyai Flag “AS”.


Setelah kita selesai dengan konfigurasi Static Route disini kita akan menambahkan konfigurasi Route Type Blackhole, dan jika kita sudah menambhkan Type tersebut Flag akan berubah menjadi “A SB” yang artinya Active Static Blackhole.


Dan setelah kita tambahkan konfigurasi Type Blackhole Client tidak dapat saling Ping dan hasilnya adalah Time Out, disini tidak akan ada pemberitahuan mengapa Packet yang dikirimkan tidak sampai pada tujuan.



Setelah uji Ping diatas Client masing-masing Client masih bisa berkomunikasi. Sekarang kita coba tambahkan konfigurasi Routing Type Unreachble dan kita lihat bedanya.

 Bisa dilihat setelah kita tambahkan konfigurasi Routing Type Unreachble Flag yang tadinya “AS” sekarang berubah menjadi “A SU” yang artinya Active Static Unreachable .
Sekarang kita coba untuk uji ping pada PC, maka setelah kita tambahkan Routing Type Unreachble Client tidak akan bisa Ping dan akan muncul pesan Error seperti berikut ini.
Setelah kita pastika semua perangkat kita Static Route dan saling berkomunikasi, sekarang kita tambahkan konfigurasi Routing Type Prohibit pada Static Route yang telah kita buat tadi. Pada konfigurasi ini yang tadinya Flag berstatus “AS” akan berubah menjadi “A SP” yang artinya Active Static Prohibit.

Sedangkan setelah kita konfigurasi Routing Type Prohibit jika kita Ping Client tidak akan dapat menerima packet yang kita kirimkan, dan otomatis akan terblokir. Hasil pemblokiran ini akan muncul pesan Error, seperti berikut ini.



Setelah itu kita tambahkan konfigurasi Routing Type Unicast untuk mengembalikan Type-nya menjadi Default. Kita konfigurasi Type Unicast pada Static Routing yang kita buat sebelumnya.

Jika kita sudah menambahkan konfigurasi Routing Type Unicast, kita uji coba Ping maka hasilnya Client akan menerima paket yang kita kirimkan atau Static Routing yang kita buat akan enjadi Default.

Dalam konfigurasi ini saya juga menunjukkan konfigurasi dalam bentuk video, selamat menonton :)



LAB-MTCRE- Konfigurasi Load Balance PCC (Per Connection Classifier)

September 01, 2019 Add Comment

Pada lab kali ini saya akan membahas tentang Load Balance (PCC). PCC (Per Connettion Classifier) merupakan metode Load Balance yang dapat digunakan jika kita  mengiginkan agar koneksi internet dari kedua ISP yang kita gunakan masuk ke dalam satu Router yang sama.
Untuk konfigurasi kali ini saya akan menampilkan load balance pada router Mikrotik dengan menggunakan 2 link ISP. Bandwith yang digunakan yaitu masing-masing sebesar 1 MB. Berikut adalah topologi yang saya gunakan untuk konfigurasi Load Balance PCC.

Untuk konfigurasi yang pertama kita harus menambahkan alamat IP pada masing-masing Interface Router, yaitu untuk ether1 sebagai jalur ISP-A dan ether3untuk LAN. Untuk ISP-B disini saya menggunakan jalur Wirelles pada WLAN.
Selain itu kita harus menambahkan Firewall NAT Masquared untuk Client kita dapat terhubung internet.

Selanjutnya kita konfigurasi Firewall Mangle untuk memetakan koneksi yang berasal dari Interface lokal (ether3) yang akan keluar meninggalkan router masing-masing interface WAN yaitu ether1 dan wlan1. Untuk Chain= Prerouting dan Src. Address (alamat IP pada Client).


Lalu untuk tab Advance pada Per Connection Classifier kita isikan src address and port > 2/0 ( 2 : jalur yang dipakai saat itu adalah 2 buah ISP, 0 : adalah urutan jalur PC yang digunakan). Hal ini dilakukan agar router melakukan tracking koneksi yang masuk maupun keluar melewati router berdasarkan kriteria tertentu.
Metode PCC yang kita gunakan ini untuk mengklasifikasikan koneksi yang berasal dari interface lokal (ether3) berdasarkan address and port.


Lalu pada Tab Action kita isikan mark routing dan New Mark Routing ISP-A.  Rule ini digunakan untuk menandai setiap koneksi yang masuk ke dalam router melalui interface ether1 dan wlan1.
Rule mangle  akan menandai koneksi yang masuk dari ether1 sebagai connection-mark=isp1 dan koneksi yang masuk melalui wlan1 akan ditandai sebagai connetcion-mark=isp2, dan dari situ kita dapat memetakan koneksi yang keluar dari router melalui masing-masing interface dengan action mark Routing.


Setelah itu kita harus mengonfigurasi Simple Queque yang diberikan untuk masing-masing ISP, untuk ISP-A kita berikan bandwith sebesar 1M dan untuk ISP-B kita berikan bandwith sebesar 1M.




Untuk selanjutnya kita harus menambahkan Route ke dalam table Rouing yang terbagi menjadi 2 jenis entri routing. Pertama yaitu untuk menentukan apakah sebuah koneksi harus melalui jalur ISP-A atau jalur ISP-B.


Selanjutnya kita lakukan pengujian pada PC Client dengan Speedtest pada PC Client.

Pada pengujian diatas terlihat bahwa traffic pada jaringan local yang sudah mengalami peningkata (Full Traffic), yang artinya metode Load Balance PCC ini berhasil kita gunakan.

Pada konfigurasi Load Balance PCC ini saya juga memberikan tutorial dalam bentuk video. Selamat menonton :)




LAB-MTCRE- Konfigurasi Load Balance PBR (Policy Bised Routing) Routing Mark

September 01, 2019 Add Comment

Pada lab kali ini saya akan membahas tentang Routing Mark, Routing Mark ini digunakan untuk memilih dua jalur koneksi ke jaringan internet maupun jaringan lokal. Routing Mark merupakan salah satu fitur Policy Route atau kebijakan Routing yangterdapat pada Mikrotik. Routing Mark ini dapat digunakan apabila terdapat 2 buah ISP (Internet Service Provider) yang terhubung dengan 1 Router kita dan Router kita terhubung dengan 2 buah client yaitu PC1 dan PC2, dan kita ingin memisahkan jalur koneksi ke internet yaitu, untuk PC1 hanya akan mendapat koneksi internet dari ISP-A, dan untuk  PC2 hanya mendapat koneksi internet dari ISP-B. Untuk konfigurasinya kita menggunakan topology seperti dibawah ini.

Pada saat kita mengalami kondisi seperti pada gambar diatas, tentu saja kita ingin agar kinerja PC dapat koneksi internet dengan maksimal dan tidak mengalami buffer. Dengan menggunakan policy route kita dapat menentukan dua buah jalur untuk masing-masing PC kita.

Pertama kitaharus menambahkan alamat sesuai dengan topology diatas, selanjutnya kita harus menambahkan filtering menggunakan firewall mangle.
Untuk konfigurasi firewall mangle kita gunakan Chain Prerouting dan in-interfacenya adalah interface yang menuju keclient, actionnya adalah mark-roting yang digunakan untuk menandai rute sehingga kita dapat memisahkan link koneksi internet yang akan digunakan pada client. Lalu new –routing-mark kita isikan sesuai dengan untuk client mana konfigurasi firewall mangle yang kita buat dan passtrough harus kita nonaktifkan. Berikut adalah konfigurasinya.




Selanjutnya kita harus memasukkan konfigurasi default route kedalam router dengan tambahan parameter Routing Mark yang mana kita diharuskan untuk menentukan mark routing mana yang akan dijinkan menggunakan route tersebut.


Setelah kita selesai mengonfigurasi default route, selanjutnya kita harus membuat agar client dapat melakukan koneksi internet yaitu dengan NAT Masquared. Karena kita memiliki duabuah link yang mengarah leinternet maka kita perlu membuat dua buah rule NAT.

Setelah itu kita harus mengonfigurasi Simple Queque yang diberikan untuk masing-masing ISP, untuk ISP-A kita berikan bandwith sebesar 1M dan untuk ISP-B kita berikan bandwith sebesar 512K.


Selanjutnya kita lakukan pengujian pada PC Client dengan Speedtest pada masing-masing PC Client.


Pada pengujian diatas terlihat bahwa pada PC1 mendapatan bandwith sebesar 1 MB yang merupakan jalur dari ISP-A dan pada PC2 mnedapatkan bandwith sebesar 512K yang merupakan jalur dari ISP-B.

Pada konfigurasi Load Balance PBR ini saya juga memberikan tutorial dalam bentuk video. Selamat menonton :)