Debian- Konfigurasi Virtual IP Debian 8.11

Januari 27, 2020 Add Comment


Pada system operasi linux memiliki kemampuan untuk membuat network card virtual, yang fungsinya adalah untuk membuat seolah-olah system operasi yang kita jalankan memiliki 2 network card. Selain untuk pengunaan network virtual untuk hearbeat untuk keperluan linux high avaibility, penggunaan network card virtual ini juga dapat digunakan untuk membuat ip alias.
Namun pada ip virtual ini terdapat satu kelemahan yang peru kita ketahui, yaitu jika network card fisik rusak atau down maa network card virtual ini juga akan ikut mati. Langsung saja kita praktekkan untuk penambahan network card atau ip virtual ini. Untuk konfigurasinya hampir sama dengan kofigurasi ip address pada biasanya, hanya saja akan ditambahkan beberapa perintah, untuk topologi kita gunakan sama seperti saat kita mengkonfigurasi ip address seperti biasa. Berikut adalah konfigurasinya.
Masuk pada file /etc/network/interfaces lalu pada bawah syntax ip utama tambahkan ip virtual sesuai dengan kebutuhan.

Pada konfigurasi diatas kita telah menambahkan eth0:0 untuk interface ip virtual, dan kita tambahkan ip secara static. Setelah selesai menambahkan ip diatas keluar dan simpan konfigurasi dengan ctrl+x lalu enter. Jangan lupa lakukan restart pada service network interface.

Setelah selesai proses restart lalukan pengecekan dengan perintah ip a untuk memastika bahwa ip yang kita tambahkan benar-benar berhasil.
Pada hasil diatas terdapat keterangan bahwa pada eth1 terdapat dua ip yaitu ip local da nip virtual yang telah kita tambahkan.
Untuk pengujian kita dapat lakukan ping pada ip virtual.


Debian- Konfigurasi Remote Access Telnet Debian 8.11

Januari 24, 2020 Add Comment

Telnet adalah kepanjangan dari Telecommunication Network yang merupakan suatu protocol client-server yang dapat memberikan akses remote untuk login ke computer tertentu dalam sebuah jaringan. Selain itu,telnet dapat digunakan untuk mengakses berbagai macam layanan umum yang terhubung dengan jaringan internet, termasuk katalog perustakaan dan database.
Telnet memberikan akses secara langsung keberbagai layanan yang ada di internet. Fungsi telnet yang utama adalah mengakses computer host secara remote login. Telnet menggunakan 2 perangkat lunak jaringan computer, yaitu program client dan server, software client dijalankan pada computer yang meminta layanan pada server dan software server adalah program yang dijalankan oleh computer host yang member layanan pada client.
Untuk konfigurasi remote access telnet kita akan gunakan topologi seperti dibawah ini. Kita asumsikan topologi tersebut sudah terkonfigurasi ip dan terkoneksi dengan internet.

Sebelum kita melakukan konfigurasi kita harus menginstall aplikasi telnet terlebih dahulu. Aplikasi yang digunakan untuk telnet ini adalah telnetd.

Setelah proses installasi selesai selanjutnya kita lakukan pengujian yaitu dengan meremote server dari client. Untuk meremote kita dapat menggunakan terminal jika kita menggunakan system operasi linux.
Jika system operasi yang kita gunakan adalah windows kita dapat menggunakan aplikasi putty.
Berikut adalah pengujian yang kita lakukan pada terminal linux.
Jika kita menggunakan putty kita isikan pada Host Name (or IP Address) dengan ip local dan port default pada telnet.
Setelah kita berhasil pada remote telnet kita dapat login menggunakan user dan password yang digunakan pada debian.


Merubah Default Port Telnet

Sama hal nya seperti dengan SSH mengapa kita harus merubah port default pada telnet, yaitu untuk keamanan pada service yang sedang kita jalankan. Secara default, telnet menggunakan port 23 dan kita dapat merubahnya sesuai dengan yang kita inginkan. Jika kita tetap menggunaan port default maka kemungkinan aka nada orang yang tidak bertanggung jawab membobol masuk kedalam server kita, karena semua orang pasti tahu bahwa port default yang digunakan yaitu 23.

Untuk merubah port nya kita masuk pada file nano /etc/services. Setelah masuk kedalam service kita cari nama telnet dan disitu akan tertera juga port nya. Disini kita akan merubah port menjadi port 26. Lalu reboot.

Setelah selesai proses reboot, kita lakukan pengujian dengan coba mengakses port yang telah kita rubah. Pada perintah ini ada beberapa tambahan option (-l) yang artinya user yang digunakan, sedangkan option (-r) yang menunjukkan port yang digunakan.


Debian- Konfigurasi Mail Server Debian 8.11

Januari 17, 2020 Add Comment

Mail Server merupakan sebuah server atau layanan internet berbasis cloud computing yang digunakan untuk mengirim dan menerima email dalam satu jaringan server mail yang sama. Mail Server dapat mengumpulkan, mengolahan dan mengirim data-data serta informasi dalam bentuk email atau surat elektronik dengan menggunakan domain email khusus atau domain email tersendiri. Mail Server menggunakan dasar layanan client-server dimana client dapat mengakses server email melalui aplikasi. Ada tiga protocol utama dalam mengirimkan email melalui mail server, yaitu protocol SMTP (Simple Mail Transfer Protocol), POP3 (Psot Office Protocol V3), dan IMAP SMTP.
Simple Mail Transfer Protocol (SMTP) adalah sebuah protocol yang bertugas untuk mengirim sebuah email yang bergeraj pada port 25. Post Office Protocol (POP) adalah sebuah protocol yang bertugas untuk menerima sebuah email yang bergerak pada port 110. Protocol ini digunakan apabila kita membaca email yang masuk (inbox), maka seluruh inbox yang ada di mail server akan didownload dan dihapus.
Internet Mail Application Protocol (IMAP), port ini juga digunakan untuk menerima email. Perbedaannya terdapat pada metode menerima email, jika POP seluruh inbox akan didownload dan dihapus, sedangkan IMAP inbox akan didownload namun tidak dihapus. IMAP ini menggunakan protocol 143.
Disini langsung saja kita praktekkan untuk konfigurasi Mail Server, untuk topologinya kita gunakan seperti dibawah ini.

Disini kita asumsikan bahwa komputer dan client sudah terkonfigurasi IP Address sesuai dengan topologi. Untuk installasi kita memerlukan beberapa aplikasi untuk membuat Mail Server, yaitu postfix sebagai SMTP, courier-pop sebagai POP, dan courier-imap sebagai IMAP. Untuk perintah installasinya adalah sebagai berikut.

Pada saat proses installasi kita akan ditunjukkan untuk memilih type mail server yang akan diinstall, disini kita pilih internet site.

Selanjutnya pada kolom system mail name isikan dengan domain yang memiliki MX paling kecil pada DNS Sever.

Pada kolom ini kita pilih, no.

Setelah proses installasi selesai, selanjutnya kita harus membuat sebuah direktori yang digunakan untuk menampung email yang masuk pada masing-masing user. Perintah ini yang nantinya setiap kita membuat user baru secara otomatis akan dibuatkan sebuah direktori Maildir didalam home direktori masing-masing.

Selanjutnya kita harus menambahkan beberapa konfigurasi pada postfix. Untuk perintahnya sebagai berikut.

Pada file ini scroll hingga paling bawah lalu tambahkan home_mailbox = Maildir/ lalu simpan dan keluar dengan perintah ctrl+x lalu enter.

Setelah itu kita harus reconfigure atau konfigurasi ulang postfix dengan perintah dpkg-reconfigure postfix.







Pada bagian ini tambahkan 0.0.0.0/0 yang artinya semua ip dapat digunakan untuk mail server yang sudah kita buat.






Untuk bagian kolom ini kita pilih internet protocols ipv4, yang artinya hanya dapat menggunakan ip versi 4.


Setelah itu, kita tambahkan beberapa user untuk melakukan pengujian mail server. Disini kita dapat menambahkan beberapa user yang kita inginkan dengan jumlah minimal 2 user sebagai user pengirim dan user penerima.


Selanjutnya untuk pengujian kita gunakan user mail1 untuk mengirim pesan ke user mail2.

Berikut ini adalah beberapa penjelasan dari perintah-perintah di atas.
Syntak
Deskripsi
telnet mail.puriap26.com 25
Digunakan untuk meremot mail server pada port 25.
mail from: forkits
Adalah nama user yang akan mengirimkan pesan pada user kedua
rcpt to: kitshebat
Adalah nama user yang akan menerima pesan pada user pertama
data
Digunakan untuk mengawali menulis pesan (mail) yang akan dikirim
hallo ini pesan dari teman kits
Merupakan pesan yang dikirim oleh user pengirim
tanda titik (.)
Digunakan untuk mengakhiri menulis isi pean yang akan dikirim
quit
Digunakan untuk keluar dari SMTP

Selanjutya kita akan masuk pada user penerima untuk melihat pesan yang dikirim oleh user pengirim. Dan untuk perintahnya sebagai berikut.


Syntak
Deskripsi
telnet mail.puriap26.com 110
Digunakan untuk meremot mail server pada port 110
user kitshebat
Digunakan untuk login sebagai user  kitshebat
pass 12
Merupakan password yang digunakan user kitshebat adalah 12
stat
Digunakan untuk melihat kondisi inbox yang ada. Disini hasilnya adalah (OK 1 434), itu artinya ada 1 email masuk pada inbox
retr 1
Digunakan untuk melihat isi email yang ada pada inbox
quit
Digunakan untuk keluar dari SMTP


Debian- Dynamic Host Configuration Protocol Debian 8.11

Januari 01, 2020 Add Comment

DHCP merupakan singkatan dari Dynamic Host Configuration Protocol. Sebuah protocol yang berfungsi untuk mendistribusikan parameter IP secara otomatis. Sedangkan DHCP Server merupakan server yang terkonfigurasi DHCP yang nanti si server tersebut akan memberikan parameter IP secara otomatis kepada computer client yang merequest. Bayangkan saja sebuah topologi dengan client yang berjumlah 500, jika harus mengkonfigurasi static ip pasti akan sangat merepotkan. Maka dari itu kita dapat menggunakan DHCP Server. DHCP Server tidak hanya memberikan ip address, namun juga subnet mask, gateway, dns resolver, dan beberapa parameter lainnya.
Untuk konfigurasi DHCP Server kita akan menggunakan topologi seperti dibawah ini.
Kita akan menggunakan guest os debian sebagai dhcp server dan guest os windows sebagai dhcp client. Diasumsikan bahw dhcp server sudah dikonfigurasi IP Address sesuai dengan topologi. Selanjutnya kita harus mengintall aplikasi yang dibutuhkan untuk membuat dhcp server di debian, aplikasi yang sering digunakan pada debian adalah isc-dhcp-server. Berikut adalah perintah yang digunakan untuk installasi aplikasi tersebut.
Setelah aplikasi berhasil kita install selanjutnya kita akan konfigurasi file dhcp server yang ada pada “/etc/dhcp/dhcpd.conf”.
Cari baris yang ada tulisan A slightly hilangkan tanda # mulai dari “subnet” sampai tanda “ }”. Lalu edit isi file seperti dibawah ini.

Ket:
a.     Subnet 192.168.30.1 netmask 255.255.255.0, merupakan alamat ip network kita dan juga subnetmasknya.
b.     Range 192.168.30.3 192.168.30.34; merupakan range ip yang akan kita berikan kepada client sesuai dengan jumlah host yang kita gunakan, karena kita menggunakan /24 jadi jumlah host 254.
c.     Option domain-name-servers; merupakan alamat ip DNS Server, kita dapat memberikan lebih dari satu alamat ip DNS Server dengan memisahkan menggunakan tanda koma.
d.     Option domain-name; merupakan domain dari DHCP Server (jika ada, jika tidak ada dapat juga diisi dengan hostname DHCP Server).
e.     Option routers; merupakan alamat ip gateway yang diberikan oleh DHCP Server.
f.        Option broadcast-address; merupakan alamat ip broadcast.
g.     Defult-leases-time; merupakan waktu pinjam ip address dimana client harus memperpanjang masa peminjaman ip address. Menggunakan waktu dengan satuan detik.
h.     Max-leases-time; merupakan waktu maksimal peminjaman ip address.
Setelah itu lakukan restart service dhcp. Apabila terjadi pesan error cek kembali file yang kita edit pastikan tidak ada kesalahan penulisan karena salah tanda satu saja akan pengaruh.

Sampai saat ini kita sudah selesai melakukan konfigurasi dhcp server, selanjutnya kita dapat melakukan pengujian dari kompter client. Karena nantinya computer client, kita tidak perlu melakukan konfigurasi ip address secaa manual di client. Kita cukup memilih obtain ip address automatically.

Setelah itu coba cek pada details computer client dan terlihat bahwa saat ini client telah mendapatkan ip address secara otomatis dari hcp server.


Debian- Konfigurasi IP Address Debian 8.11

Januari 01, 2020 Add Comment

Ip address dalam dunia jaringan merupakan sebuah bagian yang penting. Alamat IP (Internet Protocol) adalah deretan angka biner antar 32 bit sampai 128 bit yang dipakai sebagai alamat identifikasi untuk tiap computer host dalam jaringan internet.
Untuk konfigurasi IP Address berikut adalah topology nya.

Setting pada adapter virtualbox
Adapter 1 : Bridge adapter pilih interface yang terhubung ke internet.
Adapter 2 : Internal network agar dapat terhubung ke client.


Selanjutnya lihat interface yang aktif pada debian yaitu dengan perintah “ip a”. Bisa dilihat interface yang aktif adalah interface loopback dan eth0, dan pada interface tersebut belum terkonfig apapun.

Selanjutnya pastinya kita perlu menambahkan konfigurasi untuk interface yang mengarah ke computer client, yaitu eth1. Untuk konfigurasinya kita masuk pada file “/etc/network/interface”.
Tambahkan beberapa script dibawah ini,

Ket :
a.     Adapter 1 (eth0) kita atur dhcp, agar debian mendapatkan request IP Address dari ISP atau sumber internet.
b.     Adapter 2 (eth1) kita atur static, karena server akan kita jadikan dhcp server. Server yang kita menjalankan dhcp server harus menggunakan ip static.
Lalu save dengan ctrl+x lalu yes, enter.
Setelah itu, restart service network dengan perintah “/etc/init.d/networking restart”. Lalu coba kita ip a dan lihat hasilnya. Pada eth0 sudah berhasil mendapatkan ip dari sumber internet, dan untuk eth1 juga sudah terdapat ip yang kita tambahkan.

Untuk pengujian internet dan ip static yang kita tambahkan kita dapat ping pada dns google, dan juga pada ip yang terdapat pada eth1.